Leave a comment

INDUSTRIALISASI

INDUSTRIALISASI

I.PENDAHULUAN

Dalam sejarah pembangunan ekonomi, konsep industrialisasi berawal dari revolusi industri, revolusi industri pertama pada pertengahan abad ke-18 di Inggris, yang ditandai dengan penemuan metode baru untuk permintaan, dan penemuan kapas yang menciptakan spesialisasi dalam produksi, serta peningkatan produktivitas dari faktor produksi yang digunakan. Setelah itu, inovasi dan penemuan baru dalam pengolahan besi, setelah itu kemudian menyusul revolusi industri kedua pada akhir abad ke -18, dan awal abad ke-19 dengan berbagai pengembangan teknologi dan inovasi. Setelah perang dunia II, mulai muncul berbagai teknologi baru

Sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi, spesialisasi produksi, dan perdagangan antarnegara, yang pada akhirnya sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat mendorong perubahan struktur ekonomi di banyak negara, dari yang tadinya berbasis pertanian menjadi berbasis industri. Sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi ,spesialisasi ,produksi, dan perdagangan antarnegara, yang pada akhirnya sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat mendorong perubahan struktur ekonomi di banyak negara,dapat dikatakan bahwa terutama kombinasi antara dua pendorong dari sisi penawaran agregat (produksi), yakni progres teknologi dan inovasi produksi, dan peningkatan pendapatan masyarakat yang mengubah volume dan komposisi konsumsi sisi permintaan agregat, merupakan kekuatan utama di balik akumulasi proses industrialisasi di dunia.

Pengalaman di hampir semua negara menunjukkan bahwa industrialisasi sangat perlu karena menjamin pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Hanya sebagian kecil negara dengan jumlah penduduknya sedikit dan kekayaan minyak atau SDA yang melimpah, seperti kuwait, arab saudi, Emirat Arab, Qatar, Libya, dan Brunei Darusalam.

II.PEMBAHASAN

FAKTOR – FAKTOR PENDORONG INDUSTRIALISASI

Selain perbedaan dan kemampuan dalam pengembangan teknologi (T) dan inovasi (In), serta laju pertumbuhan PN perkapita, ada sejumlah faktor lain yang membuat intensitas dari proses industrialisasi berbeda antarnegara. Faktor-faktor lain tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Kondisi dan struktur awal dalam negeri. Suatu negara yang pada awal pembangunan ekonomi atau industrialisasinya sudah memiliki industri-industri dasar atau disebut juga industri-industri primer atau hulu seperti besi dan baja, semen, petrokimia, dan industri-industri tengah (antara hulu dan hilir), seperti industri barang modal (mesin), dan alat-alat produksi yang relatif kuat akan mengalami proses industrialisasi yang lebih pesat di bandingkan negara yang hanya memiliki industri-industri hilir atau ringan, seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, makanan dan minuman. Alasannya, kalau sudah ada industri-industri hulu dan tengah yang kuat, jauh lebih mudah bagi negara bersangkutan untuk membangun industri-industri hilir dengan tingkat diservikasi produksi yang tinggi dibandingkan negara-negara yang belum mempunyai industri-industri hulu dan tengah.

2.      Besarnya pasar dalam negeri yang ditentukan oleh kombinasi antara jumlah populasi dan tingkat PIN riil per kapita. Pasar dalam negeri yang besar, seperti Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang (walaupun tingkat pendapatan per kapita relatif rendah dibandingkan negara-negara lain), merupakan salah satu faktor perangsang bagi pertumbuhan kegiatan-kegiatan ekonomi, termasuk industri, karena pasar yang besar menjamin adanya skala ekonomis dan efisiensi dalam proses produksi (dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu lainnya mendukung). Jika pasar domestik kecil, maka ekspor merupakan alternatif satu-satunya untuk mencapai produksi optimal. Namun, tidak mudah melakukan ekspor, terutama pada awal industrialisasi.

3.      Ciri industrialisasi. Yang dimaksud disini adalah antara lain cara pelaksanaan industrialisasi, seperti misalnya tahapan dari implementasi, jenis industri yang di unggulkan, pola pembangunan sektor industri, dan insentif  yang diberikan, termasuk insentif kepada investor.

4.      Keberadaan SDA. Ada kecenderungan bahwa negara-negara yang kaya SDA, tingkat diservikasi dan laju pertumbuhan ekonominya relatif rendah, dan negara tersebut cenderung tidak atau terlambat melakukan industrialisasi atau prosesnya berjalan relatif lebih lambat dibandingkkan negara-negara yang miskin SDA.

5.      Kebijakan atau strategi pemerintah yang diterapkan, termasuk instrumen-instrumen dari kebijakan (seperti tax holiday, bebas bea masuk terhadap impor bahan baku dan komponen-komponen tertentu, pinjaman dengan suku bunga murah, dan export processing zone atau daerah bebas perdagangan) yang digunakan dan cara implementasinya.

PERKEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI MANUFAKTUR NASIONAL

Sesuai sifat alamiah dari prosesnya, industrialisasi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu industri primer atau hulu yang mengolah output dari sektor pertambangan (bahan mentah) menjadi bahan baku siap pakai untuk kebutuhan proses produksi pada tahap-tahap selanjutnya, dan industri sekunder atau industri manufaktur yang terdiri dari industri tengah yang membuat barang-barang modal (mesin, traktor, dan sebagainya), barang-barang setengah jadi dan alat-alat produksi, serta industri hilir yanng membuat barang-barang jadi yang kebanyakan adalah barang-barang konsumen rumah tangga.

Derajat dari industrialisasi di suatu negara di cerminkan oleh tingkat pembangunan, tidak hanya dari

1.      Pertumbuhan Output

Pada masa sebelum krisis di Asia Tenggara, misalnya periode 1970-1995, industri manufaktur dari kelompok LDCstercatat mengalami suatu perkembangan yang sangat pesat. Asia Timur dan Asia Tenggara dapat dikatakan sebagai suatu kasus yang istimewa. Sebelum krisis ekonomi 1997, kawasan ini sering dijuluki a miraculous economic karena kinerja ekonominya yang sangat hebat dengan pertumbuhan PDB rata-rata pertahun 7,4% sepanjang 1970-1995, jauh di atas laju pertumbuhan rata-rata PDB dunia dan LDCs yang tercatat masing-masing 2,9% dan 4,6% selama periode yang sama.

Industri manufaktur merupakan kontributor utama bagi pertumbuhan ekonomi di NICs, dengan laju pertumbuhan rata-rata pertahun 9,4%, dibandingkan 8,0% dan 2,8% di masing-masing sektor jasa dan sektor pertanian. Di dalam kelompok ASEAN, proses industrialisasi juga berlangsung pesat sejak 1970-an, khususnya di empat negara, yakni singapura, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Selama seperempat abad terakhir ini hingga krisis ekonomi terjadi, output dari industri manufaktur di empat negara ASEAN tersebut mengalami pertumbuhan pesat di atas rata-rata LDCs; walaupun masih lebih rendah dibandingkan jepang dan belakangan ini juga Cina. Di antara empat negara tersebut, Indonesia paling terlambat memulai industrialisasinya, yaitu awal 1970-an, sejak dimulainya Pelita I. Terkecuali di singapura, pada awalnya, kegiatan industri manufaktur di negara-negara tersebut masih terbatas terutama pada industri pengolahan SDA secara sederhana, serta produksi sejumlah barang konsumsi sederhana yang ditunjukkan bagi pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

Namun demikian, di antara keempat negara tersebut,  singapura yang paling menonjol. Selain itu menurut Hiil (2003), hal lain yang mungkin lebih penting lagi adalah bahwa pelaksanaan industrialisasi di keempat negara tersebut telah berhasil melampaui suatu proses pergeseran  secara bertahap selama 1970-an, dari yang tadinya berorientasi ke pasar domestik (subsitusi impor) ke industrialisasi yang berorientasi ke pasar global. Walaupun derajat keberhasilannya berbeda antarnegara, misalnya singapura jauh lebih berhasil dalam industrialisasinya yang berorientasi ekspor di bandingkan Indonesia dan Filipina.

Di Indonesia peningkatan kontribusi output dari industri manufaktur terhadap PDB di dorong oleh laju pertumbuhan output-nya yang rata-rata pertahun sejak awal 1970-an lebih tinggi dibandingkan sektor-sektor ekonomi lainnya. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di semua negara ASEAN lainnya, laju pertumbuhan output rata-rata per tahun di sektor pertanian lebih rendah daripada di sektor industri manufaktur; walaupun pada saat krisis ekonomi mencapai titik terburuknya, dampak negatifnya terhadap pertumbuhan output pertanian lebih kecil di bandingkan apa yang telah di alami oleh industri manufaktur.

Pengalaman ini menimbulkan pertanyaan sudah seberapa kuat sebenarnya sektor industri, khususnya industri manufaktur di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand kalau kenyataanya tingkat ketergantungannya terhadap M dari input-input kebutuhan proses produksi di dalam negeri masih tinggi. Untuk mengukur sejauh mana perbedaan dalam laju pertumbuhan output antara industri manufaktur dan pertanian dapat digunakan rasio NT dari sektor pertama terhadap sektor kedua tersebut. Sebagai suatu ilustrasi empiris, hasil studi dari Aswicahyono (1996) menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dari rasio tersebut selama  1965-1995.

2.      Pendalaman Struktur Industri

Dalam proses pembangunan ekonomi jangka panjang, transformasi struktural yang terjadi di dalam ekonomi dan dimotori oleh proses industrialisasi bukan hanya dalam bentuk pergeseran pusat kekuatan ekonomi dari pertanian ke industri; tetapi juga mencakup pergeseran struktur industri, sehubungan dengan faktor-faktor keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh negara bersangkutan. Pengertian dari struktur industri bisa dalam berbagai arti: beragam jenis atau kelompok barang menurut sifat atau penggunaanya, misalnya barang modal atau mesin versus barang konsumsi, atau barang-barang konsumsi sederhana atau berteknologi rendah seperti makanan dan minuman, rokok, pakaian jadi, alas kaki, dan lain-lain versus barang-barang konsumsi yang lebih kompleks atau berteknologi tinggi dan bersifat tahan lama seperti kendaraan bermotor, TV, kulkas, komputer, dan lain-lain.

Hasil regresi pertumbuhan NT dan IPS di dalam studinya, Aswicahyono menunjukkan hasil koefisen positif, yang menandakan bahwa ada suatu relasi positif antara perubahan struktur industri dan pertumbuhan NO atau NT di sektor tersebut. Indikator lain yang umum digunakan untuk mengukur struktur industri adalah distribusi dari jumlah unit produksi (perusahaan) yang ada di dan total NO atau NT dari sektor industri menurut kelompok industri (subsektor). Distribusi PDB menurut subsektor industri juga bagus sebagai suatu indikator untuk mengukur tingkat diversifikasi industri. Paling tidak, secara hipotesis dapat dikatakan bahwa semakin maju industri manufaktur, semakin besar kontribusi output dari kelompok-kelompok industri berteknologi tinggi terhadap pembentukan PDB. Sebaliknya, dominasi dari industri-industri sederhana seperti makanan dan minuman serta produk-produk dari tekstil, kulit, dan kayu dalam pembentukan PDB menandakan bahwa pembangunan industri manufaktur masih pada tahap awal.

3.      Tingkat Teknologi dari Produk-Produk Manufaktur

Untuk mengkaji dan membandingkan kemampuan T dari produksi di negara-negara berbeda, industri-industri manufaktur dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah industri-industri berteknologi tinggi, seperti alat-alat perkantoran, termasuk komputer, obat-obatan, barang-barang elektronika untuk konsumen (termasuk bagian-bagiannya), alat-alat komunikasi, kendaraan bermotor, dan alat-alat transportasi lainnya (termasuk komponen-komponennya), mesin-mesin dan produk-produk dari bahan kimia. Kategori kedua terdiri dari industri-industri dengan T menengah, seperti produk-produk dari plastik dan karet, produk-produk logam sederhana, penyulingan minyak dan produk-produknya, dan produk-produk mineral bukan logam. Kategori ketiga adalah industri-industri dengan T rendah seperti kertas dan percetakan, tekstil, pakaian jadi, makanan, minuman, rokok, produk-produk dari kayu, dan mebel.

Cara lain untuk mengukur tingkat T di dalam produksi manufaktur adalah dengan melihat perubahan komposisi NT dari sektor tersebut menurut intensitas faktor. Intensitas dalam pemakaian faktor produksi berbeda antar industri karena terdapat perbedaan terutama dalam T yang digunakan.

4.      Ekspor

Kinerja ekspor (x) dari produk-produk manufaktur juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator alternatif untuk mengukur derajat pembangunan dari industri manufaktur. Kinerja X bisa dalam tiga arti, yaitu laju pertumbuhan volume atau nilai X dan diversifikasi, baik dalam produk maupun pasar/negara tujuan. Idealnya, industri manufaktur di suatu negara dikatakan sudah sangat maju jika laju pertumbuhan X manufaktur rata-rata per tahun tinggi dan tingkat diservikasi produk serta pasar/negara tujuannya juga tinggi. Karena ini menandakan bahwa tingkat daya saing dari produk-produk manufakturnya tinggi sehingga bisa masuk ke pasar di banyak negara lain. Laju pertumbuhan dari X manufaktur yang lebih tinggi di bandingkan laju pertumbuhan X dari sektor-sektor lainnya memperbesar pangsa dari X manufaktur di dalam X total. Berarti, semakin maju industri manufaktur di suatu negara, semakin dominan X dari sektor tersebut di dalam X total dari negara tersebut.

Study lain adalah dari Tambunan (2001) yang menunjukkan bahwa perkembangan X manufaktur di Indonesia mulai pesatsejak awal 1980-an. Pada periode 1975-1981 porsi X dari industri manufaktur di dalam X total masih sangat kecil, hanya sekitar 4%. Namun pada dekade berikutnya, pertumbuhan X manufaktur menunjukkan suatu tern yang positif. Studi lainnya adalah UNINDO, manufaktur di Indonesia mencapai 132 per 1000 dolar AS dari PDB. Derajat ini serupa dengan tingkat dari sejumlah negara lainnya. Tingkat dan pola industri di satu sisi dan perdagangan luar negeri di sisi lain, keduanya merefleksikan tingkat dan struktur dari kegiatan industri di suatu negara dan kinerja dari industri manufaktur dari negara-negara berbeda di dalam suatu lingkungan perdagangan luar negeri yang semakin meningkat.

Hasil studi UNINDO tersebut juga menunjukkan bahwa X manufaktur Indonesia tumbuh cukup pesat, yakni hampir 20% rata-rata per tahun antara 1990 dan 1997. Ini sama seperti laju pertumbuhan X manufaktur yang dicapai oleh sejumlah negara lain di dalam wilayah Asia, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filiphina, dan lebih tinggi daripada kebanyakan negara lainnya. Pesatnya pertumbuhan X ini menunjukkan bahwa Indonesia dan negara-negara lain tersebut mendapat akses yang semakin besar untuk X manufaktur mereka ke pasar-pasar di luar negeri. Semakin besarnya akses ke pasar dunia adalah suatu alat ukur tambahan dari tingkat daya saing internasional dari barang-barang manufaktur Indonesia, dan juga memberikan keuntungan-keuntungan pertumbuhan lainnya yang berasosiasi dengan keterbukaan pedagang dan orientasi X yang lebih luas.

Studi lain yang juga menarik untuk di bahas disini adalah dari Hiil (2002) mengenai industrialisasi  di ASEAN dalam dekade 90-an. Dengan menganalisis perkembangan dari sejumlah indikator-indikator komparatif dari Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand, hasil studinya menunjukkan bahwa walupun X manufakturnya tumbuh pesat, indonesia masih merupakan negara terkecil kalau di ukur dari nilai X manufakturnya, baik total maupun per kapita, dan paling besar adalah Singapura.

Hasil analisis dari World Bank tahun 1999 menunjukkan bahwa Indonesia lemah dalam produk-produk manufaktur yang prospek pasar globalnya sangat baik di masa depan. Produksi manufaktur Indonesia terkonsentrasi di produk-produk yang di pasar Internasional semakin tidak penting. Di dalam studi ini, X manufaktur dari negara-negara yang di analisis dibagi dalam empat posisi di pasar internasional, yakni pasar yang sedang berkembang, pasar yang sedang surut, kehilangan kesempatan pasar, dan keluar dari pasar. Di posisi I adalah negara-negara yang sedang mengalami peningkatan pangsa X-nya di pasar-pasar yang sedang tumbuh pesat. Di posisi II adalah negara-negara yang yang X-nya sedang tumbuh tetapi bukan di pasar yang dinamik. Di posisi III adalah negara-negara yang kehilangan pangsa X-nya di pasar yang sedang tumbuh pesat. Sedangkan di posisi ke IV adalah negara-negara yang kehilangan pangsa X-nya di pasar yang stagnam.

Ketergantungan Pada Impor

M barang-barang manufaktur juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan di sektor industri. Hipotesisnya adalah: semakin maju industri di suatu negara semakin rendah tingkat ketergantungan negara tersebut terhadap M barang-barang manufaktur. Walupun harus diakui bahwa dalam era globalisasi ini, tidak ada satu negara pun yang bisa 100% memenuhi kebutuhan pasar domestiknya untuk barang-barang manufaktur, baik untuk konsumsi maupun untuk produksi dengan memproduksi sendiri. Karena sesuai pemikiran Adam Smith, untuk bisa unggul di pasar global, tiap negara harus berspesialisasi dalam produksi barang-barang tertentu sesuai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya. Namun demikian, negara yang industrinya maju, tingkat ketergantungannya relatif lebih rendah atau negara tersebut mempunyai saldo neraca perdagangan manufaktur yang positif (X-nya lebih besar daripada M-nya), dibandingkan negara yang industrinya belum maju. Indonesia, walupun X manufakturnya terus berkembang, neraca perdagangan Indonesia untuk barang-barang manufaktur terus mengalami defisit, kecuali selama periode 1998-1999 karena M turun drastis akibat depresiasi rupiah dan krisis ekonomi.

Besarnya ketergantungan M Indonesia terhadap barang-barang manufaktur tidak hanya bersumber dari permintaan akhir (konsumen), tetpi juga permintaan perantara dari sektor-sektor ekonomi di dalam negeri. Di antara sektor-sektor ekonomi domestik, industri manufaktur adalah sektor yang sangat tergantung pada M terutama komponen-komponen dan mesin-mesin. Hal ini erat kaitannya dengan kenyataan bahwa banyak industri di dalam negeri adalah industri perakitan barang-barang subsitusi M, yang berarti sangat tergantung pada M dari negara yang menghasilkan barang-barang tersebut.

Intensitas M bervariasi tidak hanya antara jenis industri menurut kepadatan sumber daya atau faktor produksi yang digunakan, tetapi juga menurut kepemilikan. Tahun 1998 misalnya, besarnya M yang dilakukan oleh PMA hampir tiga kali lipat jumlah M dari PMDN atau hampir 200% lebih besar dibandingkan dengan nilai M dari BUMN. Walaupun rasio ini bervariasi menurut kelompok industri atau subsektor yang erat kaitannya dengan jenis produk yang dibuat yang berarti juga sifat atau pola dari produksi yang diterapkan dan besarnya keberadaan PMA di subsektor bersangkutan.

Permasalahan

1.      Keterbatasan Teknologi dan SDM

Secara umum, industri manufaktur di LDCs relatif masih terbelakang dibandingkan dengan di DCs; walupun di antara LDCs ada sejumlah negara tertentu yang industrinya sudah sangat maju seperti NICs dan ASEAN. Relatif masih terbelakangnya sektor industri di LDCs disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya adalah keterbatasan T dan rendahnya kualitas SDM. Berbeda dengan di DCs, di LDCs pada umumnya (termasuk Indonesia), selain dana untuk pendidikan dan kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) dari pemerintah sangat terbatas, sedikit sekali perusahaan-perusahaan swasta yang memiliki sendiri lembaga R&D atau yang menyediakan dana khusus untuk pendidikan lanjut bagi pegawainya.

Kualitas SDM juga dapat di ukur dengan lamanya sekolah atau rata-rata tahun pendidikan yang di alami oleh masyarakat dari kategori umur tertentu di negara tersebut. Di dalam studinya, Hiil (2002) menunjukkan bahwa rata-rata tahun pendidikan yang di nikmati oleh masyarakat dari kategori umur 25 tahun ke atas di Indonesia paling pendek di bandingkan di negara-negara ASEAN lainnya, yakni di bawah 5 tahun. Studi lainnya juga dari UNINDO (2000d) memberikan suatu bukti yang menarik, yakni tingkat produktivitas L di industri manufaktur di Indonesia ternyata berbeda antara perusahaan asing (PMA), perusahaan swasta (PMDN), dan perusahaan milik pemerintah (BUMN).

Rendahnya kualitas SDM di Indonesia salah satunya di sebabkan oleh terbatasnya dana pembangunan pendidikan yang disediakan oleh pemerintah. Hasil penelitian dari UNINDO (2000a) juga memberi bukti yang menarik mengenai perkembangan tingkat T di sektor industri di Indonesia dan sejumlah negara lainnya di Asia.

2.      Masalah – Masalah Stuktur dan Organisasi

UNIDO (2000)dalam studinya mengelompokkan masalah-masalah yang dihadapi oleh industri manufaktur di Indonesia ke dalam dua kategori, yaitu kelemahan-kelemahan yang bersifat struktural dan yang bersifat organisasi. Kelemahan-kelemahan struktural di antaranya sebagai berikut.

Basis Ekspor dan Pasarnya yang Sempit

Walaupun Indonesia memiliki banyak SDA dan jumlah L yang berlimpah yang merupakan dua faktor utama keunggulan komparatifnya, namun produk dan pasar X Indonesia sangat terkonsentrasi (tingkat diversifikasi X menurut pasar tujuan rendah):

–         Empat produk, yakni kayu lapis, pakaian jadi, tekstil, dan alas kaki bersama-sama memiliki pangsa 50% dari nilai total X manufaktur;

–         Pasar untuk tekstil dan pakaian jadi sangat terbatas hanya ke negara-negara yang menerapkan kuota.

–         Tiga negara, yakni AS, Jepang, dan Singapura menyerap sekitar 50% dari nilai X total manufaktur Indonesia, sementara AS sendiri menyerap hampir setengah dari nilai X total dari tekstil dan pakaian jadi;

–         Sepuluh produk menyumbang sekitar 80% dari seluruh hasil X manufaktur. X manufaktur Indonesia menjadi sangat mudah dipengaruhi oleh perubahan permintaan terhadap produk-produk tersebut di pasar yang terbatas;

–         Banyak produk-produk manufaktur yang dapat L dipilih sebagai X unggulan Indonesia mengalami penurunan harga di pasar dunia sebagai akibat dari persaingan yang semakin ketat, terutama dari Cina dan negara-negara produser lainnya di Asia yang bisa menghasilkan barang sama dengan biaya produksi yang lebih rendah.

–         Banyak produk-produk manufaktur yang merupakan X tradisional Indonesia mengalami penurunan daya saing, yang terutama disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, bukan faktor-faktor internal seperti upah L yang naik.

Ketergantungan Pada M yang Sangat Tinggi

–         Sejak tahun 1990, Indonesia telah menarik banyak investasi asing (PMA) di industri-industri berteknologi tinggi, seperti farmasi, kimia, elektronik dan alat-alat listrik, otomotif.

–         Pada tahun 1997, nilai M bahan baku, input perantara, dan komponen berkisar dari 45% di industri-industri kimia, 53% di industri-industri mesin, 56% di industri-industri alat-alat transportasi, hingga 70% di industri-industri barang-barang elektris;

–         Bahkan industri-industri padat karya sangat tergantung pada M bahan baku;

–         Sangat besarnya PMA industri manufaktur nasional, walaupun memberi keuntungan-keuntungan tertentu, seperti pengetahuan mengenai proses manufaktur telah membuat sektor tersebut menjadi sangat tergantung pada suplai bahan baku dan komponen dari luar negeri;

–         Walaupun pertumbuhan PMA di industri manufaktur sangat pesat dan indonesia sudah masuk kedalam sistem manufaktur regional, peralihan T ke Indonesia dalam arti yang luas, termasuk teknikal, manajemen, organisasi, pengembangan produk, dan keterkaitan eksternal sangat terbatas;

–         Ketergantungan pada PMA juga telah membuat proses peningkatan kemampuan perusahaan-perusahaan lokal dalam proses manufaktur dan kemampuan untuk mengembangkan produk dengan merk sendiri serta membangun jaringan pemasaran sendiri berjalan lambat.

Tidak Adanya Industri Berteknologi Menengah

–         Kontirbusi dari industri – industri berteknologi menengah (termasuk karet dan plastik, semen, logam dasar, dan barang-barang sederhana dari logam) terhadap pembangunan sektor industri manufaktur menurun antara tahun 1985 dan 1997.

–         Demikian juga, kontribusi dari produk-produk yang padat K (material-material dari plastik, produk-produk dari karet, pupuk, bubuk kertas dan kertas, besi dan baja) terhadap total X juga menurun selama periode yang sama.

–         Sementara di pihak lain, produksi dari industri-industri berteknologi rendah tumbuh pesat disebabkan oleh pertumbuhan pesat dari industri-industri padat L (seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki) dan pertumbuhan industri-industri kayu, kertas, dan makanan.

Konsentrasi Regional

–         Industri-industri skala menengah dan besar sangat terkonsentrasi di Jawa khususnya di Jabotabek. Walaupun pemerintah telah memberikan berbagai macam insentif, kegiatan produksi manufaktur tetap saja terpusatkan di Jawa.

Sedangkan kelemahan-kelemahan organisasi di antaranya adalah antara lain sebagai berikut.

  • Industri Skala Kecil dan Menengah (IKM) masih terbelakang.

Kontribusi IKM terhadap pembentukan NT manufaktur relatif kecil, sedangkan terhadap kesempatan kerja sangat besar.

  • Konsentrasi Pasar

Tingkat konsentrasi pasar yang tinggi dapat dijumpai di banyak segmen/subsektor manufaktur. Pangsa output dari empat perusahaan terbesar (Concentration Ratio atau CR4) mencapai lebih dari 75% total output dari hampir setengah dari Industrial branches yang ada.

  • Lemahnya kapasitas untuk menyerap dan mengembangkan T. Transformasi industri selama pemerintahan Orde Baru terutama oleh strategi-strategi bisnis dan hubungan-hubungan internasional dari konglomerat-konglomerat di Indonesia.
  • Lemahnya SDM

Seperti telah di bahas sebelumnya, fakta menunjukkan bahwa hingga kini sebagaian besar L di Indonesia masih berpendidikan rendah. Insinyur-insinyur yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi di dalam negeri, yang jumlahnya masih jauh lebih banyak daripada lulusan luar negeri, tidak semuanya berkualitas baik, yang bisa bekerja secara mandiri, memiliki keahlian dalam pemecahan permasalahan, menganalisis permasalahan teknis, dan lain-lain, dan kreatif serta mampu melakukan R&D.

Strategi Pembangunan Sektor Industri

Dalam melaksanakan industrialisasi, ada dua pilihan strategi, yakni strategi subsitusi impor (SI) atau strategi promosi ekspor (PE). Strategi SI sering disebut kebijakan Inward-looking, yakni strategi yang memfokuskan pada pengembangan industri nasional lebih berorientasi ke pasar internasional.

1.      Strategi SI

Hampir semua LDCs memulai industrialisasi mereka dengan strategi SI, terutama di Amerika Latin dan Asia Selatan, Timur dan Tenggara. Ada negara-negara yang menerapkannya hanya pada awal industrialisasi mereka (jangka waktunya pendek), dan setelah itu beralih ke strategi PE, seperti misalnya Korea Selatan dan Taiwan; ada negara seperti Indonesia yang menerapkannya sepanjang proses industrialisasinya, walaupun sejak pertengahan 1980-an strategi tersebut dikombinasikan dengan strategi PE.

2.      Strategi PE

Melihat pengalaman yang kurang berhasil dengan strategi SI. Badan-badan dunia seperti IMF dan Bank Dunia menganjurkan agar LDCs menerapkan strategi PE. Beberapa saran penting yang diberikan agar penerapan strategi tersebut memberi hasil yang baik bahwa.

  • Pasar harus menciptakan signal harga yang benar, yang sepenuhnya merefleksikan kelangkaan dari barang-barang yang bersangkutan, baik di pasar output maupun pasar input;
  • Tingkat proteksi dari M harus rendah;
  • Nilai tukar mata uang harus realistis, sepenuhnya merefleksikan keterbatasan uang asing yang bersangkutan;
  • Lebih penting lagi, harus ada insentif untuk meningkatkan X.

Menurut strategi PE, paling tidak kesempatan yang sama harus diberikan kepada industri-industri yang memproduksi untuk pasar dalam negeri dan industri-industri untuk pasar.

3.      Kebijakan Industri Pasca Krisis Ekonomi

Salah satu faktor ekonomi di dalam negeri yang sangat terpukul oleh krisis ekonomi adalah sektor industri manufaktur. Akibat depresiasi rupiah yang sangat besar terhadap dolar AS pada tahun 1998, banyak perusahaan di sektor tersebut harus mengurangi volume produksi atau bahkan menutup usaha mereka karena sangat mahalnya biaya M. Bagaimana hasilnya, masih harus dilihat nanti, karena masih banyak permasalahan seperti yang telah dibahas sebelumnya dan masih harus diselesaikan dengan kebijakan-kebijakan khusus, terutama dalam hal pengembangan T, peningkatan SDM, dan pelaksanaan pembangunan Industri di daerah, sebenarnya kebijakan industri ada di tangan pemerintah daerah tingkat dua.

III.KESIMPULAN

Dengan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa posisi SDM di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tinggi di Indonesia sangat rendah jika dibandingkan dengan di korea selatan ,Taiwan,Hong Kong, dan Filipina; walaupun ada peningkatan selama periode yang diteliti  ini memberikan kesan adanya suatu korelasi positif antara kemajuan industri dan tingkat pendidikan masyarakat di suatu negara. Semakin besar kualitas SDM dapat juga diukur dengan lamanya sekolah atau rata-rata tahun pendidiksn ysng dialami oleh masyarakat dari kategori umur tertentu di negara tersebut.

Pada dasarnya tumbuh dan kembangnya setiap negara sejalan dengan kebutuhan akan pergerakan sektor industri. Maka industrialisasi dianggap sebagai jalan keluar untuk memacu laju pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang. Namun terkadang kebijaksanaan yang ditempuh seringkali dipaksakan, dalam arti hanya sekadar meniru pola kebijaksanaan pembangunan di negara-negara maju tanpa memperhatikan kondisi sosial, budaya yang ada. Sedikit sekali negara-negara berkembang yang menyadari, bahwa usaha untuk memajukan dan memperluas sektor industri haruslah sejajar dengan pembangunan dan pengembangan sektor-sektor lain seperti perkebunan, sebagai penyedia bahan baku maupun sebagai pasar bagi produk-produk industri. Setiap peningkatan daya beli pada setiap sektor merupakan rangsanganbagipembangunansektorindustripula.
Jadi, kelancaran program idustrialisasi sebetulnya tergantung pula pada perbaikan di sektor-sektor lain, dan seberapa jauh perbaikan-perbaikan yang dilakukan rnampu mengarahkan dan bertindak sebagai pendorong bagi kemunculan-kemunculan industri baru. Dengan cara demikian kebijaksanaan yang ditempuh akan menimbulkan mekanisme saling dukung antar sektor,sebagaisuatudialektika-multisektoral.
Dalam implementasinya ada empat argumentasi atau basis teori yang melandasi suatu kebijaksanaan industrialisasi. Teori-teori dimaksud adalah argumentasi keunggulan komparatif, argumentasi keterkaitan industrial, argumentasi penciptaan kesempatan kerja, dan argumentasi loncatan teknologi (technology jump). Pola pengembangan sektor industri di suatu negara sangat dipengaruhi oleh argumentasi yang mendasarinya. Negara-negara yang menganut basis teori keunggulan komparatif (Comparative Advantage) akan mengembangkan sub sektor atau jenis-jenis industri yang memiliki keunggulan komparatif baginya. Negara yang bertolak dari argumentasi keterkaitan industrial (Industria Linkage) akan lebih mengutamakan pengembangan bidang-bidang industri yang paling luas kaitannya dengan perkembangan kegiatan-kegiatan atau sektor-sektor ekonomi lain.

DAFTAR PUSTAKA

Tambunan, Tulus T.H. (2001c), Industrialisasi di Negara Sedang Berkembang: Kasus Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tambunan, Tulus T.H. (1996), Perekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: